Widget HTML Atas

Sistem Gerak pada Manusia

Sistem Gerak pada Manusia
Sistem Gerak pada Manusia

Sistem Gerak pada Manusia - Hai..! Balik lagi di blog tahukah kamu. Sesuai tema kita di atas, postingan kali ini berisi tentang materi biologi dengan fokus pembahasan sistem gerak pada manusia. 

Pernahkah kamu berfikir tentang bagaimana tubuh kita mampu melakukan berbagai bentuk gerakan? dan Pernahkah kamu bertanya, alat-alat apa saja yang memungkinkan terjadinya gerak pada tubuh? Baiklah! Teman-teman dimana pun kalian berada, di dalam bab ini kita akan mempelajari tentang sistem gerak pada manusia serta hubungannya dengan kesehatan. Mari pelajari baik-baik, dan cermati bab ini agar kamu lebih memahaminya.


Sistem Gerak pada Manusia

Salah satu ciri dari makhluk hidup yaitu adanya sistem gerak pada makhluk itu sendiri. Pada manusia terdapat 2 pembagian sistem gerak yaitu alat gerak pasif dan alat gerak aktif. Adapun yang dimaksud alat gerak pasif disini yaitu berupa tulang. Sedangkan alat gerak aktif yaitu jaringan otot pada tubuh kita. Tulang sebagai alat gerak pasif terbagi lagi menjadi dua bagian yaitu tulang rawan (kartilago) dan tulang sejati (osteon).

Tulang Sebagai Sistem Gerak Pada Manusia (Alat Gerak Pasif) 

Berdasarkan susunannya, tulang dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

1. Tulang rawan (kartilago)
Komposisi tulang rawan terdiri dari kumpulan sel-sel tulang rawan (kondrosit). Dimana kondrosit itu sendiri akan mengeluarkan sejumlah bahan (matrik) berupa kondrin yang sifatnya lentur atau tidak kaku. Tulang rawan pada anak-anak mengandung banyak sekali zat perekat (kolagen) dan mengandung sedikit zat kapur. Oleh sebab itulah, mengapa tulang rawan pada anak-anak jauh lebih lentur dibandingkan dengan tulang rawan pada orang dewasa. 

Untuk orang dewasa, tulang rawan hanya terdapat pada tempat-tempat tertentu saja, seperti : hidung, daun telinga, di antara tulang rusuk, tulang dada, dibagian persendian serta antar ruas tulang belakang yang tidak mengalami pengerasan. Beberapa tulang rawan akan mengalami peningkatan kekerasan seiring bertambahnya waktu. Tentu saja, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karena ruang-ruang antarsel telah terisi oleh zat kapur, seperti pada tulang ubun-ubun. 

Ketika seseorang masih dalam keadaan bayi, maka tulang ubun-ubun mereka pun masih berbentuk rawan. Kemudian seiring berjalannya waktu, tulang ubun-ubun mereka pun semakin bertambah keras (dikenal dengan proses penulangan) . Proses penulangan ini disebut dengan osifikasi. Pada masa pertumbuhan, tulang seseorang masih dapat bertambah panjang. Hal ini dikarenakan, adanya cakram epifise yang terletak pada bagian ujung tulang. Dan bagian tersebut terdiri dari tulang rawan yang sel-selnya aktif mengalami pembelahan. 

2. Tulang keras (tulang sejati/osteon)
Tulang sejati atau tulang keras terdiri dari jaringan tulang yang tersusun atas sel-sel tulang yang disebut dengan osteosit. Tulang sejati atau tulang keras mengandung banyak zat kapur, protein serta kolagen (zat perekat). Zat kapur tersebut dalam bentuk kalsium karbonat (CaCO3) dan kalsium fosfat Ca3(PO4)2. Hal inilah yang menyebabkan tulang bersifat keras. Perbedaan tulang sejati pada anak-anak dan orang dewasa yaitu tulang sejati pada orang dewasa kadar zat kapurnya cenderung lebih banyak, sedangkan tulang sejati pada anak-anak memiliki kandungan zat perekat (kolagen) yang lebih banyak. Itu sebabnya, tulang orang dewasa jauh lebih keras, namun jika tulang tersebut mengalami cedera (patah), akan membutuhkan waktu yang agak lama untuk sembuh, sedangkan pada anak-anak jika mengalami patah tulang lebih cepat sembuh dibanding pada orang dewasa.

Otot Sebagai Sistem Gerak Pada Manusia (Alat Gerak Aktif) 

Otot (musculus) disebut juga daging. Jaringan otot termasuk alat gerak aktif karena mampu menggerakkan tulang. Pergerakan tulang ini asalnya adalah hasil dari kontraksi jaringan otot. Otot mampu berkontraksi dengan mengkerut dan mengendor. Adapun jaringan otot yang mampu menggerakkan tulang adalah jaringan otot yang melekat pada tulang atau kerangka. Jaringan otot ini lebih dikenal dengan sebutan otot lurik, sedangkan otot polos dan otot jantung tidak dapat menggerakkan tulang, karena tidak melekat pada tulang ataupun kerangka.

Jaringan otot lurik mampu berkontraksi dikarenakan mempunyai energi yang tersimpan didalam otot. Cadangan energi ini dikenal dengan sebutan ATP (Adensin Tri Phosphat). ATP sendiri terbentuk dari hasil pembakaran atau oksidasi makanan (baik itu dari karbohidrat ataupun lemak). Dan apabila otot terus-menerus melakukan kontraksi, maka energi pun akan habis sehingga harus membentuk ATP kembali.

Dari penjelasan singkat di atas dapat kita pahami bahwa sistem gerak pada manusia terbagi menjadi 2, yaitu sistem gerak aktif/alat gerak aktif dan sistem gerak pasif atau alat gerak pasif. Baiklah, mungkin demikian saja yang bisa kami bagikan mengenai materi seputar biologi kali ini. Semoga tulisan yang sederhana ini bisa bermanfaat dan membantu peserta didik dimana pun berada. 

Baca juga: Pengertian Otot

Materi dikutip dari buku pelajaran IPA 2 : untuk SMP - MTs Kelas VIII - penyusun, Henry G, Kuswanto, Tuti Hartiningsih.



Akhbar Sanusi
Akhbar Sanusi Pernah mengajar di SDIT Al-hanif Cilegon - Madrasah Jamilurrahman Jogjakarta - Ma'had Anni'mah Medan.