Widget HTML Atas

Junko Furuta (Kisah Menyedihkan Siswi di Jepang)

Junko Furuta
Junko Furuta

Junko Furuta (Kisah Menyedihkan Siswi di Jepang)

Junko Furuta ( 古田 順子 Furuta Junko ) adalah seorang siswa sekolah menengah Jepang yang diculik, disiksa, dilecehkan dan dibunuh pada akhir 1980-an. Furuta lahir di Misato, Prefektur Saitama. Sebagai seorang remaja, ia bersekolah di Yashio-Minami High School dan bekerja paruh waktu selama jam sekolah. Dia tinggal bersama orang tuanya, kakak laki-laki, dan adik laki-lakinya. Sebelum penculikannya, ia telah menerima pekerjaan di pengecer elektronik, di mana ia berencana bekerja setelah lulus.
Salah satu teman sekolahnya, Hiroshi Miyano, menaruh perasaan padanya dan mengajaknya berkencan beberapa kali. Namun, Furuta menolaknya karena dia tidak tertarik pada suatu hubungan. Miyano, anggota Yakuza, berusaha membalas dendam atas kasih sayang yang tak terbalas ini.

Kasus pembunuhannya bernama "Kasus pembunuhan gadis SMA yang terbungkus beton" karena tubuhnya ditemukan dalam drum beton. Penganiayaan tersebut terutama dilakukan oleh empat remaja pria, Hiroshi Miyano (宮 野 裕 史), Jō Ogura (小 倉 譲), Shinji Minato (湊 伸 治), dan Yasushi Watanabe (渡邊 恭 史).

Sekitar 100 orang tahu tentang penahanan Furuta, tetapi mengabaikan untuk melaporkannya atau mereka sendiri berpartisipasi dalam penyiksaan dan pembunuhan. Sebagian besar peserta adalah teman-teman remaja laki-laki, yang merupakan anggota kelas bawah yakuza .

Awal mula tragedi menyedihkan ini yaitu ketika seorang lelaki bernama Hiroshi Miyano, yang punya reputasi sebagai tukang bully dan memiliki koneksi dengan Yakuza tertarik pada kecantikannya. Biasanya Miyano dan kawan-kawan menyukai perempuan yang ‘nakal’, suka minum alkohol, merokok, atau pakai narkoba –seperti yang mereka lakukan.

Malahan tipe anak baik-baik seperti Junko Furuta biasanya akan direndahkan oleh geng seperti itu. Hingga suatu hari Miyano pun membuat pengecualian, entah mengapa dirinya tertarik pada paras Junko Furuta. Miyano pun mulai menyatakan cintanya, namun Furuta menolak dengan alasan ia sedang tak berminat pacaran.

Bisa dibilang, seluruh siswa di sekolah tempat Miyano belajar umumnya akan menaati apapun kemauan dari Miyano. Tentu saja, hal itu karena mereka takut pada teman-teman Yakuza-nya Miyano. Karena kerap sekali, Miyano dan teman-teman Yakuza-nya pamer kekuasaan dengan cara menebar dan mengeksploitasi ketakutan orang lain. Sehingga penolakan dari Furuta membuat Miyano marah besar.
Kehidupan bagai neraka yang dialami Furuta pun dimulai. 

Tepatnya saat itu pukul 8.30 PM, tanggal 25 November 1988, Furuta pulang dari pekerjaan paruh waktunya dengan menaiki sepeda. Namanya taqdir, kebetulan saat itu Miyano dan Nobuharo Minato, kawannya, sedang berkeliaran di Misato untuk mer4mpok dan memperk*sa wanita lokal.

Minato dan Miyano pun kemudian melihat Furuta yang sedang mengendarai sepeda. Singkat cerita, Minato pun menendang sepeda Furuta hingga gadis itu terjatuh (atas perintah Miyano). Setelah menendang Furuta hingga terjatuh, Minato pun kabur, sementara Miyano berpura-pura baru datang dan menawarkan diri untuk mengantar Furuta pulang.

Furuta tak menolak. Namun ternyata ia diarahkan ke sebuah bekas gudang yang tak jauh dari lokasi jatuhnya sepeda. Miyano pun mulai melakukan ancaman, memamerkan kekuasaan dengan kembali menyinggung koneksinya dengan Yakuza. Furuta kemudian dibawa oleh Miyano ke hotel. Kemudian ia pun menghubungi dua orang temannya, Jo Ogura dan Yasushi Watanabe.

Setelah itu, Minato pun menyusul, dan keempatnya membawa Furuta ke rumah orangtua Minato di distrik Ayase, Adachi. Tercatat bahwa saat itu Miyano dan ketiga kawannya memiliki rekam jejak pemerkos44n terhadap perempuan secara beramai-ramai. Sekumpulan lelaki bejat itu pun mengatakan kepada Furuta bahwa mereka tahu di mana Furuta tinggal dari buku catatan yang ada di tasnya dan mengancam bahwa Yakuza akan membunuh keluarganya jika dia berusaha kabur.

Tepat pada tanggal 27 November, orangtua Furuta yang sedang dalam keadaan khawatir mengontak pihak kepolisian, sebab anaknya tak kunjung pulang. Tidak lama setelah itu, Furuta pun menghubungi keluarganya.

Namun sayangnya, kontak yang dilakukan Furuta ternyata bertujuan untuk menghindari pencarian pihak kepolisian, Miyano memaksa Furuta berbohong bahwa dirinya sedang menginap selama beberapa hari di tempat teman dan meminta agar polisi menghentikan pencarian dirinya. Disisi lain, saat Furuta berada di rumah Minato, orangtua Minato tak curiga karena Furuta dipaksa untuk mengaku sebagai pacar dari salah satu penculik tersebut.

Meski tak sepenuhnya percaya, keluarga Minato memilih untuk diam sebab takut dengan Yakuza kenalan Miyano. Rumah Minato adalah tempat Junko Furuta disekap selama 44 hari. Minato juga adalah remaja yang bersikap kasar kepada kedua orangtuanya.

Kurang lebih selama 40 hari Furuta berkali-kali mendapat penyiksaan yang tingkat kekejamannya bahkan melewati logika kemanusiaan. Siksaan demi siksaan bukan hanya datang dari empat lelaki itu, tapi teman-teman Yakuza-nya seringkali diundang untuk turut menyiksa Furuta.

Pengadilan negeri Jepang mencatat Laporan resmi terkait penyiksaan dengan detil, yang dinarasikan ulang oleh media massa setempat. Menurut laporan persidangan kasus ini, Furuta diperk*sa sebanyak lebih dari 400 kali secara bergilir oleh para lelaki itu.

Gadis paling populer di sekolah itu bahkan juga dijadikan sasaran kekerasan fisik, seringkali ia dipukuli. Tubuhnya digantung di atas plafon dan diperlakukan seperti karung tinju dan tak jarang perutnya dihantam barbel.
Oleh para lelaki keji itu, Furuta dibuat kelaparan, tapi ia dipaksa makan kecoak hidup atau meminum urinnya sendiri. Beberapa bagian tubuhnya dibakar, seperti ditempeli lilin panas atau dibakar dengan rokok dan korek api. Bahkan beberapa bagian tubuhnya dimutilasi atau ditusuk jarum jahit.

Dalam kondisi yang demikian brutal, Furuta dipaksa untuk berm4sturb4si di depan para pelaku. Benda-benda asing yang tak masuk akal dimasukkan ke kemaluan dan anusnya sehingga mengakibatkan pendarahan yang hebat.
Kurang lebih enam belas hari masa penyekapan Furuta, ada seorang pria yang diintimidasi oleh para pelaku untuk memperk*sa Furuta melaporkan insiden itu ke saudaranya. Saudaranya pun meminta orang tuanya untuk memanggil polisi dan memeriksa rumah Minato.
Tapi dua polisi yang bertugas mengatakan tak ada gadis di rumah Minato. Kedua polisi itu ternyata tak memeriksa isi rumah dengan keyakinan bahwa undangan pemeriksaan itu sendiri sudah cukup membuktikan bahwa tak tak ada gadis di rumah Minato, (pada akhir kasus ini kedua polisi tersebut dipecat karena tak menjalankan tugas sesuai prosedur).
Pada Desember 1988, setelah satu bulan berada dalam penyekapan, Furuta mencoba menelpon pihak kepolisian. Upayanya gagal karena ketahuan oleh Miyano. Furuta kemudian dihukum, kakinya dibakar sementara anusnya dimasuki botol besar hingga mengalami pendarahan dan kejang-kejang.
Menurut laporan, selama persidangan para pelaku mengira bahwa gadis itu hanya berpura-pura kejang sehingga mereka membakarnya lagi.
Furuta sampai meminta agar dirinya dibunuh saja agar penderitaannya berakhir. Namun, para pelaku menolak dan malah memaksanya tidur di balkon. Padahal, saat itu musim dingin. Karena kerasnya siksaan, ia akhirnya kehilangan kontrol kandung kemih dan ususnya, Furuta lalu dipukuli karena mengotori karpet. Dia juga tidak dapat makan atau minum karena akan muntah, dan tentu ia akan dipukuli karena ini.
Memasuki Januari, penyiksaan demi penyiksaan membuat kondisi fisik Furuta berubah. Wajahnya membengkak dan luka-luka di sekujur tubuhnya mulai membusuk dan menghasilkan bau tak sedap.
Para pelaku kehilangan nafsu bejatnya dan sempat mencari korban lain untuk diperk*sa, meski tidak disekap seperti Furuta. Pada 4 Januari 1989 para pelaku melakukan siksaannya lagi, mereka memukuli Furuta dengan barbel, menendang dan meninju, dan meletakkan dua lilin pendek di kelopak matanya, membakar mereka dengan lilin panas.

Mereka memposisikan Furuta untuk berdiri dan memukul kakinya dengan tongkat. Pada titik ini, dia jatuh. Pendarahannya sangat deras juga nanah muncul dari luka bakarnya yang terinfeksi, keempat anak laki-laki itu menutupi tangan mereka dengan kantong plastik. Mereka terus memukulinya dan pada akhirnya menuangkan cairan ke paha, lengan, wajah, dan perutnya dan sekali lagi membakarnya. Furuta diduga melakukan upaya untuk memadamkan api, tetapi lambat laun tubuhnya menjadi tidak responsif.

Furuta akhirnya meninggal setelah serangan yang berlangsung selama 2 jam pada hari itu. Takut tertangkap polisi, para pelaku kemudian membungkus tubuh Furuta dengan selimut, menempatkannya di drum bervolume 208 liter, dan mengisinya dengan semen basah.
Pada pukul 8 malam, mereka membawa drum ke sebuah daerah bernama Koto di Tokyo, kemudian membuangnya ke dalam truk semen. Beberapa pelaku ditangkap pada akhir Januari 1989 atas kasus pemerkos44n gadis lain.
Pada 29 Maret, setelah interogasi lebih lanjut, mereka mengakui kejahatan yang mereka lakukan terhadap Furuta dan menyeret pelaku lainnya. Drum berisi tubuh Furuta ditemukan keesokan harinya, pada 30 Maret 1989. Tak lama berselang, pengadilan atas kasus ini dimulai dengan mendatangkan seluruh pelaku, namun vonis terhadap pelaku dirasa tidak adil dalam pandangan masyarakat, yang paling ringan adalah hukuman penjara 7 tahun sementara yang terberat 20 tahun. 

Hakim kesulitan memenuhi tekanan publik sebab para pelaku masih di bawah umur. Junko Furuta dimakamkan pada 2 April 1989. Keluarga dan teman-teman dekatnya hadir di sana bersama kesedihan yang mendalam.

---------end---------

Mungkin itu saja tulisan singkat mengenai Junko Furuta. Tulisan ini disadur dari fanpages Facebook Dark Ice dengan sedikit gubahan dari sisi bahasa. Namun tetap menjaga keotentikannya. Terima kasih atas perhatian dan waktunya, salam informasi. 


Akhbar Sanusi
Akhbar Sanusi Pendiri SEO Kilat, penulis e-book SEO Storm Resistant, desainer, dan kontributor konten SEO.