Widget HTML Atas

Ibroh Pembubaran Kajian Ustadz Farhan Abu Furaihan

Ustadz Farhan, Ustadz Farhan Abu Furaihan, Pembubaran kajian,
Ustadz Farhan, Ustadz Farhan Abu Furaihan, Pembubaran kajian,

Penulis : Faishal Abu Ibrahim

Ibroh Pembubaran Kajian Ustadz Farhan Abu Furaihan

Mengambil ibrah dari pembubaran kajian Ustadz Farhan di Aceh, Saya jadi faham ternyata bukan "Islam Jamaah" saja yang punya ideologi takfiri (mudah mengkafirkan), ternyata warga "islam aswaja nga-NU" juga menganut ideologi yg sama dengan mereka "Islam Jamaah", bahkan mereka lebih Barbar daripada "Islam Jamaah".

Buktinya, disaat sholat isya sedang berlangsung dalam satu masjid yg sholatnya diimami oleh orang yg mereka tuduh wahabi maka mereka tidak mau bermakmum dengan orang tersebut, padahal mereka berada di satu masjid yg sama, bahkan mereka mentertawakan orang² yg sedang sholat, mereka menghina imam dan makmumnya. apakah orang² yg sedang sholat didalam masjid itu semuanya kafir sehingga mereka tertawakan dan mereka hina orang² itu? Apakah si imamnya juga adalah orang kafir sehingga mereka tidak mau bermakmum dengan orang tersebut dan malah mentertawakan sholatnya? Fix ini adalah bodoh murokkab.

Mereka yang suka menuduh salafy wahabi sebagai takfiri (mudah mengkafirkan), justru merekalah sebenarnya yg takfiri dengan sikap mereka, mudah memvonis sesat orang lain secara serampangan.

Bertahun-tahun setelah saya hijrah dan ngaji di Salafy, tak ada satu pun ustadznya yang berani mengkafirkan person-person tertentu. Yang saya tau justru asatidzah Salafiyyin yang saya ambil ilmunya, baik secara langsung maupun lewat rekaman audio/video, beliau-beliau mengajarkan kami untuk berhati-hati dalam masalah kafir mengkafirkan. Mereka membedakan antara vonis 'amm (vonis secara umum) dengan mu'ayyan (vonis secara perorangan).

22 tahun saya dan keluarga saya terjerat faham "islam jamaah" yang berideologi takfiri (mudah mengkafirkan kaum muslimin) dan 5 tahun didalamnya saya terjun sebagai da'i mereka, berpindah dari satu kota kekota lainnya mengajarkan manusia pada faham tersebut..

Alhamdulillah berkat hidayah dan taufiq dari Allah 11 tahun yang lalu saya dan keluarga saya telah hijrah meninggalkan faham tersebut dan setelah hijrah saya baru mengerti, bahwa:
Tidak setiap muslim yg berbuat bid'ah itu berarti dia adalah ahlul Bid'ah, tidak semua muslim yg jatuh pd 'amalan² kemunafikan/kekufuran maka berarti dia telah kaafir!
'Amalnya adalah 'amalan Bid'ah tapi pelakunya tidak serta-merta langsung divonis sebagai "ahlul Bid'ah", 'Amalannya adalah 'amalan kekufuran tapi pelakunya tdk serta-merta langsung divonis sebagai "Kaafir". Memvonis seorang muslim dengan sebutan "ahlul Bid'ah", "Munafik" atau "Kaafir" itu ada Dhowaabith, ada aturan²nya, tidak boleh sembarangan. telah bercerita Khaalid bin dzakwan:
عن الربيع بنت معوذ قالت دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم غداة بني علي فجلس على فراشي كمجلسك مني وجويريات يضربن بالدف يندبن من قتل من آبائهن يوم بدر حتى قالت جارية وفينا نبي يعلم ما في غد فقال النبي صلى الله عليه وسلم لا تقولي هكذا وقولي ما كنت تقولين
Dari Rubayyi’ binti mu’awwidz ia bercerita: “dihari pernikahanku, Nabi shallallaahu 'alaihi wasalam datang lalu beliau duduk ditempat dudukku seperti posisimu saat ini dariku.beberapa gadis kecil kami menabuh rebana.mereka bersenandung mengenang orang tua kami yg gugur dimedan Badar.tiba tiba ada seorang dari mereka yg bersenandung, “hidup bersama kami seorang Nabi yg mengetahui apa yg akan terjadi esok hari”. lalu beliau shallallaahu 'alaihi wasalam bersabda : “janganlah kamu berkata demikian,dan katakanlah apa yg telah engkau katakan sebelumnya”.
( HR.Bukhaari )

Dalam hadits diatas Nabi memberi 'udzur/pema'afan kepada perempuan tersebut atas ucapan kufur yang ia ucapkan. maka tatkala perempuan tersebut mengklaim bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasalam mengetahui barang ghaib,beliau tidak serta merta memvonis kafir perempuan tersebut lantaran ucapannya,dikarenakan ketidak tahuannya. beliau hanya mencukupkan diri dengan hanya melarangnya saja dan memperingatkan agar tidak mengulanginya lagi,padahal perbuatan mengklaim bahwa selain Allah dapat mengetahui perkara ghaib adalah termasuk perkara yg dpt menyebabkan kekafiran.

Ini menunjukkan,bahwa individu tertentu tidak boleh dijatuhi vonis kafir,hanya karena melakukan perbuatan kufur.kecuali apabila 'syarat-syarat' penjatuhan vonis kafir telah terpenuhi dan tidak ada lagi 'faktor faktor penghalangnya', dan diantara faktor penghalangnya adalah kebodohan itu tadi.

Dan masih banyak lagi kaidah-kaidah terkait masalah tabdi', tafsiq dan takfir ini. Tahukah anda dari mana saya dapat mengetahui semua ilmu ini? saya dapatkan setelah saya ngaji di "salafy"..

Jadi, kalau anda pernah mendengar atau membaca statement bahwa salafy itu mudah mengkafirkan, katakan kepadanya:
Qul haatuu burhaanakum inkuntum shaadiqiin ?!

Baca juga: Hadits Anjuran Memperbanyak Dzikir
Akhbar Sanusi
Akhbar Sanusi Pendiri SEO Kilat, penulis e-book SEO Storm Resistant, desainer, dan kontributor konten SEO.