Widget HTML Atas

Allah Maha Tinggi di atas Arsy, Bukan dimana-mana

Allah tinggi di atas Arsy, Arsy, dalil keberadaan Allah,
Allah Maha Tinggi di atas Arsy

ALLAH TINGGI DI ATAS 'ARSY-NYA, BUKAN DIMANA-MANA

✔ Al-Imam Al-Baihaqi dengan sanadnya menukil manuskrip yang dibacakan oleh Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ayyub bahwa madzhab Ahlussunnah meyakini:
الرحمن على العرش استوى بلا كيف والآثار عن السلف في مثل هذا كثيرة وعلی هذه الطريق يدل مذهب الشافعي رضي الله عنه وإليها ذهب أحمد بن حنبل والحسين بن الفضل البجلي ومن المتأخرين أبو سليمان الخطابي
“Dzat Allah tinggi berada di atas ‘Arsy-Nya, tanpa menanyakan bagaimana hakikatnya, dan atsar dari Salafussholih terkait masalah ini sangatlah banyak. Di atas jalan inilah madzhab Asy-Syafii rodhiyallahu ‘anhu, madzhab Ahmad bin Hanbal, Al-Husain bin Al-Fadhl Al-Bajali serta para Ulama muta’akkhirin seperti Abu Sulaiman Al-Khotthobi."
(Al-Asma’ was Shifat 2/308)

✔ Salah seorang murid Al-Imam Asy-Syafii yang terkenal, yaitu Al-Imam Ismail bin Yahya Al-Muzani berkata:
عال على عرشه في مجده بذاته وهو دان بعلمه من خلقه أحاط علمه بالأمور
"Allah Tinggi di atas 'Arsy-Nya sesuai kemuliaan-Nya dengan Dzat-Nya, Dia dekat dari hamba-Nya dengan ilmu-Nya, dan ilmu-Nya meliputi segala perkara."
(Syarhussunnah Al-Muzani hal. 75)

❌ Jadi perkataan Allah ada dimana-mana, di dalam hati, atau menyatu dengan manusia, bukanlah madzhab Ahlussunnah, bukan pula madzhab Asy-Syafii, dan perkataan seperti itu adalah perkataan yang batil menyelisihi dalil-dalil Al-Qur’an was Sunnah serta ijma’ Salaf.

☑ Keyakinan yang benar adalah Allah berada di atas langit ke tujuh Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, tanpa membutuhkan 'Arsy-Nya, sebagaimana Allah tidak butuh ibadah hamba-Nya. Inilah aqidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Allah berfirman:
الرحمن على العرش استوى
"Dzat Allah Tinggi di atas 'Arsy-Nya.”
(Thoha: 5)

Allah juga berfirman:
أأمنتم من في السماء
"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di atas langit."
(Al-Mulk : 16)
Redaksi "Fis sama'" dalam ayat ini bermakna di atas, bukan di dalam langit terkungkung oleh ruang dan waktu.
🔖 Karena kata "Fi" dalam bahasa Arab bisa bermakna "'Ala" (di atas) seperti firman Allah:
ولأصلبنكم في جذوع النخل
"Dan sungguh aku (Fir'aun) akan menyalib kalian di atas pohon kurma."
(Thoha: 71)

Juga firman Allah:
فسيحوا في الأرض أربعة أشهر
"Maka berjalanlah kalian (orang-orang musyrik) di atas bumi selama empat bulan."
(At-Tawbah: 2)
✔ Al-Imam Abul Hasan Al-Asy'ari berkata,
"Bahwa kelompok Mu'tazilah, Jahmiyyah, Haruriyyah menerjemahkan makna istiwa' dengan istila' (menguasai), ini tidak benar, jika demikian adanya maka tidak ada perbedaan antara 'Arsy dan bumi, karena jika Allah beristiwa' di atas 'Arsy-Nya diterjemahkan "menguasai", padahal Dia menguasai segala sesuatu, berarti Dia beristiwa' di atas 'Arsy, bumi, langit, rerumputan dan kotoran!

Mahatinggi Allah atas yang demikian itu. Kelompok Mu'tazilah, Jahmiyyah, Haruriyyah juga mengklaim Allah berada di semua tempat, anggapan ini mengonsekuensikan mereka untuk mengatakan Allah juga berada di dalam perut Maryam, di atas rerumputan, dan tempat-tempat yang kosong! Mahatinggi Allah atas apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar."
(Al-Ibanah 'an Ushuliddiyanah hal. 219)

• Begitupula kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah menafikan ketinggian Allah berada di atas ‘Arsy-Nya.
• Sebab ilmu Allah meliputi segala sesuatu, Dia mengetahui apa yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.
• Kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya tidaklah bermakna percampuran, menyatu dengan hamba-Nya, maupun persekutuan. Akan tetapi kebersamaan Allah yang dimaksud adalah dengan ilmu-Nya.
• Hal ini telah disepakati oleh para Shohabat, Tabi’in dan Tabi’it tabi’in sebagaimana yang ditegaskan oleh para Ulama.

Penulis : Ustadz Fikri Abul Hasan

Baca Juga: Pacaran Tapi Tidak Zina, Bolehkah?
Akhbar Sanusi
Akhbar Sanusi Pendiri SEO Kilat, penulis e-book SEO Storm Resistant, desainer, dan kontributor konten SEO.