Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

USIA MUDA BISA TERKENA PENYAKIT JANTUNG

Umur 32 dapat menimbulkan tanda tanya, terutama kalau kita membicarakan soal penyakit jantung.

Kini penyakit jantung tak hanya menyerang orang-orang tua, tetapi juga orang-orang muda. Hal itu dapat terlihat dari kematian penyanyi Mike Mohede.

Mike mohede adalah seorang penyanyi jebolan Indonesian Idol. Selepas Indonesian Idol, pria yang lahir pada tanggal 7 November 1983 itu memulai karier solonya. Ia menerbitkan tiga buah album, yaitu Mike (2005), Kemenanganku (2010), dan Kedua (2015).

Namun, perjalanan kariernya terhenti lantaran ia terkena serangan jantung sewaktu tengah tertidur pada tanggal 31 Juli 2016. Banyak orang, terutama keluarga, yang tidak menyangka bahwa Mike akan pergi secepat itu.

Jantung Ibarat Sebuah Pompa Air

Penyakit jantung yang dialami Mike bersifat tersembunyi. Oleh sebab itu, tidak seorang pun, bahkan mungkin Mike sendiri, yang mengetahui penyakit tersebut.

Namun demikian, sebagaimana dijelaskan dalam buku-buku kesehatan, penyakit jantung mempunyai sejumlah tanda. Salah satunya adalah rasa nyeri pada dada yang terjadi terus-menerus.

Bagaimana rasa nyeri itu berawal?

Untuk menjelaskannya, saya akan memberi metafora sebuah pompa air yang terhambat kinerjanya. Mari kita mengumpamakan jantung seperti sebuah pompa air.

Sebuah pompa air bertugas menyedot air yang terdapat di dalam tanah dan kemudian mengalirkannya ke pipa-pipa yang sudah disusun sedemikian rupa. Pompa tersebut bekerja 24 jam sehari. Selama itu, pompa tersebut terus mengalirkan berliter-liter air lewat banyak pipa.

Oleh karena kurang mendapat perawatan, pipa-pipa itu kemudian dipenuhi timbunan pasir yang terbawa oleh pompa. Awalnya pasir itu jumlahnya sedikit. Namun, kemudian pasir tersebut mengendap dan akhirnya menutup separuh aliran pipa seperti sebuah bendungan kecil.

Pompa terus bekerja sebagaimana biasanya. Namun, akibat sirkulasi yang terhambat, pompa menjadi lebih cepat panas. Kalau terus dibiarkan demikian, pompa bisa terganggu, atau bahkan rusak.

Jantung pun bertugas demikian. Jantung berperan memompa darah ke seluruh aliran tubuh lewat pembuluh darah. Saat kita mengonsumsi makanan berlemak secara berlebihan, timbullah karat lemak, persis seperti pasir yang mengganggu aliran air.

Akibatnya, jantung bekerja sangat keras, bagaikan pompa yang panas. Nah, rasa panas pada pompa itu adalah perumpamaan untuk nyeri yang sangat menusuk di dada. Oleh sebab itu, dalam buku Sehat Itu Murah, dr. Hendrawan Nadesul mewanti-wanti, Maka itu, nyeri dada yang progersif dari waktu ke waktu, perlu diwaspadai.

Kalau terus demikian, jantung bisa mengalami disfungsi, atau gagal jantung.

Saya Menyaksikan Operasi Jantung Paman Saya

Pada bulan Juli 2015 paman saya harus menjalani operasi pemasangan ring di jantungnya. Ia memang sudah mengeluhkan nyeri di dadanya beberapa bulan sebelumnya. Ia pun telah memeriksakan diri di tiga rumah sakit yang berbeda.

Ternyata dokter di ketiga rumah sakit itu memberi hasil diagnosis berbeda. Dokter pertama mendiagnosis bahwa paman saya terkena penyakit lambung. Dokter kedua berkata terkena penyakit paru-paru. Sementara itu, dokter ketiga menyebut sakit jantung. Di antara ketiga hasil diagnosis itu, diagnosis ketiga adalah yang paling tepat.

Sebelum tanda-tanda penyakit jantung tersebut muncul, paman saya adalah perokok aktif. Dalam sehari ia dapat menghabiskan beberapa batang rokok. Ia memang sudah merokok sejak bertahun-tahun, dan merasa sehat-sehat saja.

Apalagi ia juga menjalani gaya hidup yang aktif. Ia mempunyai toko di depan rumah, dan bekerja keras mengangkut barang-barang di tokonya.

Secara fisik, ia tampak prima. Buktinya, saya pernah bermain bulutangkis tiga set bersamanya, dan ia bilang masih kurang. Padahal, pada set ketiga saja, napas saya sudah hampir putus karena saking lelahnya!

Namun, ia mulai mengeluh bahwa dadanya terasa nyeri. Rasanya seperti ditusuk-tusuk, katanya. Oleh karena khawatir atas kesehatannya, keluarga kemudian membawanya ke beberapa rumah sakit, seperti telah saya ceritakan di atas.

Singkat cerita, setelah positif terkena sakit jantung, ia pun menjalani operasi pemasangan ring jantung. Berdasarkan hasil scan memang terlihat penyumbatan di dua pembuluh darah di jantungnya. Oleh sebab itu, untuk melancarkan peredaran darah, penyumbatan itu harus dibuka dengan ring.

Anda mungkin bertanya, Berapa harga yang harus dikeluarkan untuk operasi itu? Sangat mahal. Saya menghitung-hitung bahwa untuk satu menit yang dihabiskan di meja operasi, keluarga harus mengeluarkan uang satu juta rupiah!

Anda bisa membayangkan betapa besar biaya yang harus dihabiskan kalau operasi berlangsung lebih dari dua jam? Itu pun belum termasuk biaya kamar dan obat.

Penyakit Jantung Ditimbulkan Oleh Multifaktor

Penyakit jantung yang dialami paman saya tentunya tidak hanya disebabkan oleh kebiasaan merokok, tetapi juga dipicu oleh faktor-faktor lain.

Dr. Handrawan Nadesul menyebut lima faktor yang bisa memicu munculnya penyakit jantung. Kebanyakan disebabkan oleh hipertensi, lemak darah yang tinggi, merokok, diabetes, dan stres, tulisnya.

Hal yang menarik adalah faktor pemicu yang terakhir disebut, yaitu stres. Stres ternyata dapat mengakibatkan jantung bekerja keras.

Stres Dapat Disebabkan Oleh Empat Hal Ini

Dalam buku Psikologi edisi kesembilan, Carole Wade dan Carol Tavris menyebutkan empat hal yang bisa membikin seseorang stres. Pertama, stres dapat berasal dari persoalan pekerjaan. Beban kerja yang terlalu berat, atasan yang emosional, dan konflik dengan rekan kerja tak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga dapat memunculkan stres yang berkepanjangan.

Persoalan yang sama pun terjadi pada para pencari kerja. Lapangan kerja yang terbatas menyebabkan banyak orang menganggur. Sewaktu tidak memiliki penghasilan tetap, seseorang terus mendapat tekanan, lantaran harus memenuhi kebutuhan hidup dan membayar tagihan-tagihan.

Oleh sebab itu, baik bekerja maupun tidak, seseorang bisa terpapar stres yang kronis apabila tidak mengetahui cara mengelola stres dengan baik.

Kedua, stres bisa bersumber dari kebisingan. Orang-orang yang tinggal di tempat yang bising seperti di tepi jalan raya atau di sisi rel keretaapi sangat rentan terkena stres. Bisa kita bayangkan betapa terganggunya kita sewaktu terbangun malam-malam karena kaget mendengar suara sirine keretaapi yang memekakan telinga.

Ketiga, stres dapat bermula dari peristiwa kehilangan orang-orang terdekat. Dalam buku Menurunkan Tekanan Darah, Aggie Casey dan Herbert Benson mendaftar sepuluh hal pemicu stres dan kehilangan pasangan berada pada urutan teratas.

Seorang istri yang ditinggalkan oleh suaminya, misalnya, tak hanya berduka, tetapi juga terkena stres lantaran sekarang ia harus menghidupi diri dan keluarganya. Ia harus menggantikan peran suaminya sebagai kepala dan tulang punggung keluarga.

Keempat, stres dapat berawal dari kemiskinan. Sewaktu harga-harga kebutuhan pokok cenderung naik, biaya sekolah mahal, dan tagihan membengkak, hidup terasa semakin sulit, terutama bagi kaum prasejahtera. Semua itu dapat mengakibatkan stres yang berkepanjangan.

Saya Mengatasi Stres dengan Melakukan Relaksasi

Sebetulnya stres tidak melulu bersifat destruktif. Sejumlah penelitian bahkan menyebut bahwa manusia membutuhkan stres. Dengan intensitas rendah, stres dapat meningkatkan ketahanan mental. Orang yang terpapar stres rendah akan mempunyai mentalitas yang lebih kuat daripada sebelumnya.

Nah, yang menjadi persoalan adalah stres tingkat tinggi dan progresif. Stres semacam itu merupakan awal dari depresi. Stres itu bersifat destruktif karena meruntuhkan sikap optimis dalam menjalani hidup.

Orang yang mengalaminya akan memandang dunia sebagai tempat tanpa harapan. Mereka akan merasa minder dalam pergaulan. Mereka menarik diri dari keluarga. Bahkan, mereka cenderung menyakiti dirinya sendiri.

Namun demikian, bukan berarti bahwa stres seperti itu tidak dapat diatasi. Kita bisa menyelesaikannya kalau kita mengetahui teknik untuk menetralisir perasaan stres yang timbul.

Saya terbiasa meredakan stres dengan menggunakan relaksasi. Ada beragam teknik relaksasi yang bisa dilakukan, seperti pernapasan diafragma, pemijatan, dan visualisasi. Saya tidak akan membahas semua teknik tersebut, tetapi saya akan memaparkan satu teknik yang mudah dilakukan, yaitu pernapasan diafragma.

Pernapasan diafragma dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini. Pertama, postur tubuh harus tegap dan rileks. Anda dapat berdiri atau duduk sewaktu mempraktikkannya.

Kedua, tutup lubang hidung sebelah kiri dengan menggunakan jempol tangan kanan. Bernapaslah dengan menggunakan lubang hidung sebelah kanan sebanyak tiga kali.

Ketiga, tutup lubang hidung sebelah kanan dan bernapaslah dengan lubang hidung sebelah kiri. Bernapaslah lambat dan dalam.

Keempat, bernapaskan dengan kedua lubang hidung. Bernapaslah dengan lambat dan dalam. Rasakanlah perasaan rileks.

Teknik sederhana itu dapat dilakukan siapapun, di mana pun, dan kapan pun. Teknik itu mampu menetralkan perasaan stres yang muncul dengan efektif dan mengembalikan akal sehat yang dikendalikan oleh emosi.

Risiko penyakit jantung sebetulnya dapat dikurangi dengan meminimalkan faktor-faktor pemicunya. Salah satu caranya adalah dengan belajar mengelola stres. Dengan terampil mengendalikan stres, tak hanya kedamaian hati, kita juga akan memperoleh jantung yang lebih sehat.

Semoga kita semua hidup sehat dan bahagia.
Akhbar Sanusi
Akhbar Sanusi Pendiri SEO Kilat, penulis e-book SEO Storm Resistant, desainer, dan kontributor konten SEO.