Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tren Baru Obat Herbal vs Obat Modern


Sebagai seorang pecinta obat bahan alam, seringkali aku merasa 'sakit hati' ketika sebagian orang (biasanya dokter) yang meragukan khasiat obat herbal memakai satu istilah ajaib dalam dunia kedokteran: evidence-based medicine. Di lain pihak, sebagai seorang 'profesional' aku pula nir dapat membantah sebab memang betul adanya. Lebih diperparah lagi memakai maraknya perdagangan obat herbal secara membabi buta serta membodohi masyarakat 1-2 dekade belakangan ini entah memakai toko online, model mlm, dsb dsb. Setelah lebih dari 200 tahun merajai kedokteran modern, tampaknya era keemasan obat modern akan segera berakhir, atau setidaknya akan bisa diimbangi oleh terapi herbal. Dimulai dari isolasi asam salisilat dari btg pohon willow serta kemudian sintesis aspirin oleh Felix Hoffmann, era single-drug-entity mulai menggurita. Dengan kemajuan progresif dari ilmu kimia (terutama analisis) serta diikuti oleh perkembangan uji bioaktivitas dari hewan ke cell-line, seluruh fokus dunia tumpah dalam pengembangan obat memakai pendekatan 'silver bullet'. Silver bullet vs Herbal shotgun Obat modern memiliki ciri yang sangat tidak sama memakai obat herbal. Obat modern biasanya merupakan senyawa tunggal murni serta menyasar dalam satu (atau beberapa) target spesifik. Sedangkan obat herbal biasanya bukan senyawa murni, melainkan adonan dari beberapa tumbuhan (sampai 20an tumbuhan) yang tiap tanamannya mengandung puluhan sampai ratusan senyawa kimia, maka sasarannya pun sebagai sangat banyak sehingga disebut memakai pendekatan 'herbal shotgun'. Analoginya, ada 2 cara untuk menumbangkan presiden yang katakanlah korup. Yang pertama memakai mengutus seorang assassin (hahahah) memakai keahlian  serta mumpuni, menyasar tertentu ke presiden korup serta tertentu dalam-sreeeet. Maka selesai sudah. Cara ke 2 ialah memakai mengutus ratusan, ribuan kalau perlu, pendekar-pendekar kelas menengah untuk keroyokan menjatuhkan si presiden. Jila si assassin hanya menyerang sang presiden, keroyokan pendekar tersebut, meskipun kungfunya katakanlah masih dalam bawah si presiden serta pengawalnya, namun sebab keroyokan maka si presiden pun dapat dijatuhkan. Pendekar2 menengah ini tak hanya menyerang tertentu, namun pula menyerang pendukung2 presiden sehingga presiden sebagai lemah serta dapat dihancurkan seperti merusak gudang pasokan kuliner, menghancurkan bunker presiden, menyingkirkan pembantu2 presidennya, dll secara sekaligus. Inilah analogi sederhana cara kerja obat modern vs obat herbal. Obat herbal 200 tahun terakhir Sejak kebangkitan era silver bullet, obat herbal mengalami banyak kendala sebab cara berpikir para ilmuwan serta masyarakat ilmiah sudah dalam-dogma bahwa obat haruslah:

senyawa murni;
mempunyai mekanisme yang jelas;
hubungan obat sebaiknya dihindari;

Hal demikian jelas merugikan pengembangan obat herbal sebab sangat sulit untuk menyelidiki mekanisme kerja komponen2 dalam obat herbal sebab saking banyaknya. Pada obat modern, ilmuwan hanya bekerja (umumnya) dalam satu senyawa murni, sedangkan dalam obat herbal ada berbagai senyawa sehingga sulit untuk mengidentifikasi yang mana yang berguna. Tanda-tanda kebangkitan 1 Alam telah menyediakan semuanya. Sebagian besar obat modern yang beredar saat ini ialah dampak isolasi, modifikasi, atau pembelajaran dari alam, terutama dari tumbuhan. Misalnya morfin ialah dampak isolasi dari tumbuhan Papaver somniferum. Ilmuwan belajar dari alam. Jila suatu tumbuhan digunakan sebagai suatu obat dalam suatu masyarakat tradisional, misal obat diare, maka memakai pendekatan ilmu modern, dapat diduga terdapat satu senyawa aktif antidiare ada dalam dalam tumbuhan tersebut. Maka dimulailah serangkaian proses isolasi serta identifikasi yang rumit untuk mendapatkan senyawa aktif. Sialnya, dalam tahap ekstrak (ini mirip seperti merebus teh, maka kita dapat ekstrak air dari teh), dapat saja menunjukkan kegiatan yang sangat baik namun ketika telah diperoleh isolat2 senyawa murni, nir satu pun yang berguna baik. Analoginya, belum tentu dalam suatu tumbuhan yang berguna obat mengandung 'seorang assassin' :) Penelitian 2 dekade terakhir pula ternyata menunjukkan hal yang menarik. Bahwa takaran aspirin 3x600 sehari mg untuk nyeri, ternyata ekuivalen efektifitasnya memakai ekstrak kulit pohon willow yang mengandung salisilin 240 mg. Perlu diketahui bahwa metabolit aspirin serta salisilin ialah sama, yaitu asam salisilat. Artinya keduanya berubah sebagai asam salisilat dalam tubuh. Ini ialah contoh bagaimana secara teori medis nir mungkin 240 mg salisilin dalam sehari dapat memberi imbas yang serupa memakai 1800 mg aspirin. Secara medis ini disebut memakai subtherapeutic dose. Hal ini hanya mungkin jikalau lain komponen2 dalam ekstrak kulit pohon willow ternyata membantu dalam mengendalikan nyeri. Seperti analogi aku, mungkin saja nir perlu assassin memakai skill tinggi, relatif memakai assassin kelas menengah dibantu keroyokan memakai pendekar2 kelas rendahan yang menyerang (beberapa) target secara bersamaan. Contoh lain ialah artemisinin, obat malaria yang diisolasi dari Artemisia annua. Suatu studi menunjukkan bahwa penggunaan teh Artemisia annua (bener-bener seperti teh celup, hehe) memakai kandungan artemisinin yang ekuivalen memakai obat modern artemisinin ternyata memberikan absorpsi yang lebih baik. Ternyata sebab dalam sediaan teh (artinya ekstrak air) ada banyak senyawa2 lain yang berjuang bersama2 menaikkan penyerapan si artemisinin oleh usus. Sedangkan dalam sediaan modern tentu nir ada sebab single fighter. Nah kini sudah tahukan mengapa walaupun diserang habis2an oleh ilmu kedokteran modern, toh pengobatan tradisional cina permanen laris elok serta terus sebagai topik penelitian yang gurih. Dengan ini maka dogma bahwa obat haruslah senyawa murni (bukan adonan) sudah nir lagi relevan. Dan hubungan obat yang awalnya dihindari, kini malah sebagai semakin menarik sebab hubungan ini (sinergisme, dalam bahasa ilmiah) yang sebagai ujung tombak pengobatan herbal. Tanda-tanda kebangkitan 2 Yang sebagai kendala terbesar dari kemajuan penelitian obat herbal ialah sulitnya mengetahui bagaimana obat tersebut bekerja ditingkat selular/molekular. Mengapa? Karena terlalu banyak isi suatu ekstrak, sehingga studi mekanisme farmakologi yang biasa hanya dalam 1 atau 2 senyawa mustahil diterapkan dalam obat herbal yang mengandung puluhan sampai ratusan komponen. Kini, memakai kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi 'omics' (metabolomic, proteomic, serta omic omic lain), maka terlihat sudah asa untuk dapat mengelusidasi mekanisme kerja campuran2 senyawa kimia dalam tumbuhan. Walaupun saat ini belum ada publikasi teknologi omics dalam hal ini, namun beberapa publikasi yang ada mengenai pemanfaatan omics menunjukkan tanda tanda positif bahwa nir lama lagi studi obat herbal sampai ketingkat molekular akan sebagai hal yang rutin. Saat ini banyak ilmuwan sedang semangat2nya mempelajari teknologi ini serta dalam 1-2 dekade mendatang, nir mustahil akan ada obat herbal yang beredar dipasaran. Bukan sebagai obat tradisional, fitofarmaka, atau obat kelas 2 yang tak dapat diresepkan dokter, namun akan sebagai obat modern yang dipergunakan secara utama mengatasi penyakit2 tertentu. Nasib obat modern bagaimana? Apakah ini artinya kita dapat meninggalkan obat modern? Jawabannya tentu nir. Selain sebab masih butuh penelitian serta menunggu pakar2 'omics' menyingkap misteri Tuhan (halah, haha) kedua2nya jelas diharapkan. Sudah saatnya masyarakat ilmiah (terutama para dokter) menerima keberadaan obat herbal serta liputan bahwa obat adonan (herbal) memiliki benefit2, walaupun masih belum dapat digunakan secara klinis sebab terbentur peraturan. Juga para fans obat herbal pula harus mengingat, walau obat herbal dapat digunakan secara cara lain (secara tradisional), ada kondisi2 tertentu dimana obat modern (senyawa murni) WAJIB digunakan serta tak tergantikan oleh herbal terutama dalam kondisi dimana takaran obat harus dikontrol ketat. Salam sehat :) NB: Kayanya belum ada pakar 'omics' dalam Indonesia... kalaupun ada pasti terbentur memakai dana riset yang mahal untuk bidang baru ini serta memakai model hibah penelitian dalam Indonesia yang kere, kita cuma dapat menggigit jari serta menunggu tumpahan produk herbal baru dari negara lain dalam dekade2 mendatang